RESENSI NOVEL
Identitas Buku
Judul : Negeri 5 Menara
Pengarang : A. Fuadi
Penerbit : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun
Terbit : Agustus 2010
Tebal
Buku : 423 halaman
Jenis
Buku : Fiksi
Novel
ini mengisahkan tentang seorang anak yang berasal dari Kampung Bayur, Bukittingi,
Sumatera Barat bernama Alif Fikri. Seorang anak yang dengan setengah hati masuk
pondok pesantren hanya untuk mematuhi perintah Amaknya. Sebenarnnya cita-cita
Alif setelah lulus tsanawiyah adalah melanjutkan ke SMA dan masuk ITB kemudian
menjadi seperti Habibie. Namun setelah mendapat saran dari pamannya di Kiro, akhirnya
Alif memutuskan untuk masuk Pondok Madani yang berada di Ponorogo, Jawa Timur.
Di
PM itulah perjalanan Alif menggapai kesuksesan dimulai. Awalnya Alif merasa
berat dan tersiksa berada di PM dengan segala peraturan yang sangat ketat dan
disiplin. Tetapi, lama-kelamaan Alif mulai menyadari bahwa keputusannya tidak
salah. Mantera yang mujarab dari Kiai Rais “man jadda wajada”, siapa yang
bersungguh-sungguh pasti sukses telah terukir di hati semua santri PM termasuk
Alif.
Alif
dan Sahibul Menara, yaitu julukan bagi dia dan ke 5 sahabatnya di PM, Raja
(dari Medan), Atang (dari Bandung), Said (dari Surabaya), Dulmajid (dari
Sumenep) dan Baso (dari Gowa), berjuang bersama menuntut ilmu untuk mewujudkan
impian mereka. Akhirnya, novel ini ditutup dengan kesuksesan ke 6 sahabat
tersebut dalam menggapai cita-cita. Mereka semua telah sukses berada di lima
negara yang berbeda, di 5 menara impian mereka masing-masing.
a. Tema
Secara keseluruhan, novel Negeri 5 Menara ini
bertema tentang persahabatan dan perjuangan dalam menggapai cita-cita. Tema
tersebut tersirat dari persabatan yang erat dan kokoh dari 6 tokoh utama yaitu,
Alif, Said, Atang, Raja, Dulmajid, dan Baso sejak berada di Pondok Madani
sampai akhirnya mereka sukses dalam menggapai cita-cita. Meskipun banyak suka
duka selama di PM tetapi 6 bersahabat tersebut selalu berjuang dan
bersungguh-sungguh demi mewujudkan impiannya.
b. Alur/
plot
Novel
karya A. Fuadi ini beralur sorot balik atau alur mundur. Terlihat dari Bab I
yang berjudul Pesan Masa Silam, berisi tentang sosok Alif yaitu tokoh utama yang
telah meraih sukses di Washington DC. Kemudian dia mendapat pesan singkat dari
sahabat lamanya semasa di PM dulu. Pesan singkat tersebut telah membawa
pikirannya kembali pada masa lalu. Berawal dari hal tersebut, bab-bab
selanjutnya dari novel ini menceritakan tentang perjalan hidup sosok Alif
semasa di PM bersama sahabat-sahabatnya dahulu.
c. Sudut
Pandang
Sudut
pandang yang digunakan dalam novel ini adalah orang pertama sebagai tokoh utama.Karena novel ini menggunakan kata ganti Aku yang menunjukkan orang pertama, dan
merupakan kisah nyata sang pengarang sehingga pengarang ikut terlibat dalam
cerita.
d. Setting/
Latar
a) Tempat : Pondok Madani di Ponorogo, Jawa Timur, Kampung
Bayur di Bukittinggi, Sumatera Barat dan Washington DC.
Kebanyakan setting
tempat dari novel ini berada di PM, yaitu tempat ke-6 sahabat menuntut ilmu. Kemudian
Kampung Bayur tempat tokoh Alif berasal. Yang terakhir adalah Washington DC,
tempat tokoh Alif mencapai keberhasilannya dalam menggapai cita-cita.
b) Waktu :
Desember 2003 merupakan bulan dimana tokoh Alif bekerja di Washington DC dan
berawal dari situ cerita masa lalunya terukir kembali. Hal tersebut dapat
dilihat pada bagian awal novel ini, yaitu pada halaman 1. Yang selanjutnya
waktu tahun ajaran baru bagi pelajar yang telah lulus SMP, terlihat dari pokok
pikiran pada halaman 5 paragraf ke-2, bahwa tokoh Alif setelah lulus tsanawiyah
ingin melanjutkan ke SMA.
e. Tokoh
: Alif (dari Maninjau), Raja (dari Medan), Atang (dari Bandung), Said (dari
Surabaya), Dulmajid (dari Sumenep) dan Baso (dari Gowa).
Dari keseluruhan isi novel, kekurangan hanya
terdapat pada bagian penggunaan bahasa daerah yang tidak mencantumkan footnote
seperti pada halaman 90, paragraf 2, yaitu kata “ber-sebo”. Kata tersebut tentu
sangat asing bagi pembaca yang bukan berasal dari daerah Sumatera. Akan lebih
baik jika kata tersebut juga dicantumkan arti katanya dengan menggunkan
footnote seperti pada bahasa-bahasa daerah yang lain yang terdapat pada
halaman-halaman tertentu dalam novel ini.
Selain itu, banyaknya tokoh-tokoh sampingan dalam
novel ini membuat pembaca harus lebih cermat untuk mengingatnya. Terutama
nama-nama ustadz di PM yang cukup banyak.
Sementara kelebihan dari novel ini salah satunya
pada penyajian cover sangat menarik dengan menampilkan gambar 5 menara simbol
bangunan dari 5 negara di dunia yang sesuai dengan isi novel. 5 menara tersebut
menggambarkan tujuan dari cita-cita keenam sahabat, yaitu mereka bercita-cita
ingin sukses di Arab Saudi, Mesir, Eropa, Amerika dan Indonesia. Judul novel
ini menggunakan kata kiasan, “Negeri 5 Menara” yang juga sangat sesuai dengan
isi cerita.
Pengarang sangat kreatif dalam memilihan diksi.
Secara keseluruhan novel ini menggunakan bahasa baku, namun karena pengarang
kreatif dalam memilih dan menggunakan diksi novel ini tetap menarik untuk
dibaca. Contohnya pada halaman 29, paragraf 2, kalimat ke-5 yaitu “Di tengah
kabut pagi, kompleks ini seperti mengapung di udara.” Juga pada halaman 90,
paragraf 2, kalimat ke-4 yaitu “Jari telunjuk dan jempolnya menjepit sebatang
rokok yang berpijar di tengah kabut.”
Pengarang juga sangat detail dalam mendiskripsikan
setiap kejadian atau peristiwa-peristiwa dalam ceritanya. Seperti
mendiskripsikan suatu tempat, suasana hati, dan karakteristik seorang tokoh.
Sehingga dengan kedetailan dalam diskripsinya mampu membawa pembaca ikut
merasakan apa yang sedang terjadi dalam novel ini. Seperti, ketika pengarang
mendiskripsikan Washington DC pada halaman awal novel ini, kemudian
mendiskripsikan suasana dalam bus yang dinaikinya menuju Pulau Jawa pada
halaman 15, juga ketika mendiskripsikan betapa menakutkan dan garangnya seorang
kepala keamanan bernama Rajab Sujai yang digelari Tyson.
Selain itu, kelebihan yang sangat menarik dari novel
ini adalah, secara tidak langsung novel ini telah mengenalkan pembaca pada
kosakata-kosakata Bahasa Arab. Pengarang dengan kreatif selalu menyisipkan kosakata-kosakata
Bahasa Arab hampir di setiap halaman. Selain itu, setiap kosakata yang terlihat
asing bagi pembaca misalnya kosakata dalam Bahasa Arab dan Bahasa Minang ,
pengarang tak lupa menyertakan footnote sehingga pembaca mengerti arti dari
kata sing tersebut.
Amanat dari novel ini juga merupakan suatu kelebihan
yang luar biasa. Novel Negeri 5 Menara ini memberikan gambaran nyata pada
masyarakat luas bahwa menuntut ilmu di Pondok Pesantren bukanlah pilihan yang
salah, tetapi di pesantren kita akan memperoleh banyak manfaat serta ilmu dunia
dan akhirat. Yang tak kalah pentingnya adalah sebuah mantra yang sangat manjur
dari seorang ustadz PM bernama Kiai Rais “Man jadda wajada” Siapa yang
bersungguh-sungguh pasti sukses. Mantera ini sangat perlu diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari. Apabila kita ingin menggapai cita-cita maka kita harus
bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Hadiah Allah dari kesungguhan tersebut
tak ada yang lain selain kesuksesan.
Pada intinya, novel karya A. Fuadi ini penuh inspiratif
dan sangat memotivasi. Melalui tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini kita dapat
mengambil pelajaran hidup dan semangat juang mereka dalam menggapai cita-cita. Kisah
nyata yang dituangkan dalam kata-kata yang sangat menarik dan mengesankan. Buku
ini sangat cocok untuk dibaca oleh semua kalangan masyarakat. Terutama bagi
generasi muda yang sedang mencetak impian-impian indahnya.
