Selasa, 10 Juli 2012

RESENSI NOVEL


Identitas Buku
Judul               : Negeri 5 Menara
Pengarang       : A. Fuadi
Penerbit           : PT. Gramedia Pustaka Utama
Tahun Terbit    : Agustus 2010
Tebal Buku      : 423 halaman
Jenis Buku       : Fiksi

Novel ini mengisahkan tentang seorang anak yang berasal dari Kampung Bayur, Bukittingi, Sumatera Barat bernama Alif Fikri. Seorang anak yang dengan setengah hati masuk pondok pesantren hanya untuk mematuhi perintah Amaknya. Sebenarnnya cita-cita Alif setelah lulus tsanawiyah adalah melanjutkan ke SMA dan masuk ITB kemudian menjadi seperti Habibie. Namun setelah mendapat saran dari pamannya di Kiro, akhirnya Alif memutuskan untuk masuk Pondok Madani yang berada di Ponorogo, Jawa Timur.
Di PM itulah perjalanan Alif menggapai kesuksesan dimulai. Awalnya Alif merasa berat dan tersiksa berada di PM dengan segala peraturan yang sangat ketat dan disiplin. Tetapi, lama-kelamaan Alif mulai menyadari bahwa keputusannya tidak salah. Mantera yang mujarab dari Kiai Rais “man jadda wajada”, siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses telah terukir di hati semua santri PM termasuk Alif.
Alif dan Sahibul Menara, yaitu julukan bagi dia dan ke 5 sahabatnya di PM, Raja (dari Medan), Atang (dari Bandung), Said (dari Surabaya), Dulmajid (dari Sumenep) dan Baso (dari Gowa), berjuang bersama menuntut ilmu untuk mewujudkan impian mereka. Akhirnya, novel ini ditutup dengan kesuksesan ke 6 sahabat tersebut dalam menggapai cita-cita. Mereka semua telah sukses berada di lima negara yang berbeda, di 5 menara impian mereka masing-masing.

a.       Tema
Secara keseluruhan, novel Negeri 5 Menara ini bertema tentang persahabatan dan perjuangan dalam menggapai cita-cita. Tema tersebut tersirat dari persabatan yang erat dan kokoh dari 6 tokoh utama yaitu, Alif, Said, Atang, Raja, Dulmajid, dan Baso sejak berada di Pondok Madani sampai akhirnya mereka sukses dalam menggapai cita-cita. Meskipun banyak suka duka selama di PM tetapi 6 bersahabat tersebut selalu berjuang dan bersungguh-sungguh demi mewujudkan impiannya.
b.      Alur/ plot
           Novel karya A. Fuadi ini beralur sorot balik atau alur mundur. Terlihat dari Bab I yang berjudul Pesan Masa Silam, berisi tentang sosok Alif yaitu tokoh utama yang telah meraih sukses di Washington DC. Kemudian dia mendapat pesan singkat dari sahabat lamanya semasa di PM dulu. Pesan singkat tersebut telah membawa pikirannya kembali pada masa lalu. Berawal dari hal tersebut, bab-bab selanjutnya dari novel ini menceritakan tentang perjalan hidup sosok Alif semasa di PM bersama sahabat-sahabatnya dahulu.
c.       Sudut Pandang
Sudut pandang yang digunakan dalam novel ini adalah orang pertama sebagai tokoh utama.Karena novel ini menggunakan kata ganti Aku yang menunjukkan orang pertama, dan merupakan kisah nyata sang pengarang sehingga pengarang ikut terlibat dalam cerita.
d.      Setting/ Latar             
a)    Tempat     : Pondok Madani di Ponorogo, Jawa Timur, Kampung Bayur di Bukittinggi, Sumatera Barat dan Washington DC.
Kebanyakan setting tempat dari novel ini berada di PM, yaitu tempat ke-6 sahabat menuntut ilmu. Kemudian Kampung Bayur tempat tokoh Alif berasal. Yang terakhir adalah Washington DC, tempat tokoh Alif mencapai keberhasilannya dalam menggapai cita-cita.
b)      Waktu      : Desember 2003 merupakan bulan dimana tokoh Alif bekerja di Washington DC dan berawal dari situ cerita masa lalunya terukir kembali. Hal tersebut dapat dilihat pada bagian awal novel ini, yaitu pada halaman 1. Yang selanjutnya waktu tahun ajaran baru bagi pelajar yang telah lulus SMP, terlihat dari pokok pikiran pada halaman 5 paragraf ke-2, bahwa tokoh Alif setelah lulus tsanawiyah ingin melanjutkan ke SMA.
e.       Tokoh : Alif (dari Maninjau), Raja (dari Medan), Atang (dari Bandung), Said (dari Surabaya), Dulmajid (dari Sumenep) dan Baso (dari Gowa).

Dari keseluruhan isi novel, kekurangan hanya terdapat pada bagian penggunaan bahasa daerah yang tidak mencantumkan footnote seperti pada halaman 90, paragraf 2, yaitu kata “ber-sebo”. Kata tersebut tentu sangat asing bagi pembaca yang bukan berasal dari daerah Sumatera. Akan lebih baik jika kata tersebut juga dicantumkan arti katanya dengan menggunkan footnote seperti pada bahasa-bahasa daerah yang lain yang terdapat pada halaman-halaman tertentu dalam novel ini.
Selain itu, banyaknya tokoh-tokoh sampingan dalam novel ini membuat pembaca harus lebih cermat untuk mengingatnya. Terutama nama-nama ustadz di PM yang cukup banyak.
Sementara kelebihan dari novel ini salah satunya pada penyajian cover sangat menarik dengan menampilkan gambar 5 menara simbol bangunan dari 5 negara di dunia yang sesuai dengan isi novel. 5 menara tersebut menggambarkan tujuan dari cita-cita keenam sahabat, yaitu mereka bercita-cita ingin sukses di Arab Saudi, Mesir, Eropa, Amerika dan Indonesia. Judul novel ini menggunakan kata kiasan, “Negeri 5 Menara” yang juga sangat sesuai dengan isi cerita.
Pengarang sangat kreatif dalam memilihan diksi. Secara keseluruhan novel ini menggunakan bahasa baku, namun karena pengarang kreatif dalam memilih dan menggunakan diksi novel ini tetap menarik untuk dibaca. Contohnya pada halaman 29, paragraf 2, kalimat ke-5 yaitu “Di tengah kabut pagi, kompleks ini seperti mengapung di udara.” Juga pada halaman 90, paragraf 2, kalimat ke-4 yaitu “Jari telunjuk dan jempolnya menjepit sebatang rokok yang berpijar di tengah kabut.”
Pengarang juga sangat detail dalam mendiskripsikan setiap kejadian atau peristiwa-peristiwa dalam ceritanya. Seperti mendiskripsikan suatu tempat, suasana hati, dan karakteristik seorang tokoh. Sehingga dengan kedetailan dalam diskripsinya mampu membawa pembaca ikut merasakan apa yang sedang terjadi dalam novel ini. Seperti, ketika pengarang mendiskripsikan Washington DC pada halaman awal novel ini, kemudian mendiskripsikan suasana dalam bus yang dinaikinya menuju Pulau Jawa pada halaman 15, juga ketika mendiskripsikan betapa menakutkan dan garangnya seorang kepala keamanan bernama Rajab Sujai yang digelari Tyson.
Selain itu, kelebihan yang sangat menarik dari novel ini adalah, secara tidak langsung novel ini telah mengenalkan pembaca pada kosakata-kosakata Bahasa Arab. Pengarang dengan kreatif selalu menyisipkan kosakata-kosakata Bahasa Arab hampir di setiap halaman. Selain itu, setiap kosakata yang terlihat asing bagi pembaca misalnya kosakata dalam Bahasa Arab dan Bahasa Minang , pengarang tak lupa menyertakan footnote sehingga pembaca mengerti arti dari kata sing tersebut.
Amanat dari novel ini juga merupakan suatu kelebihan yang luar biasa. Novel Negeri 5 Menara ini memberikan gambaran nyata pada masyarakat luas bahwa menuntut ilmu di Pondok Pesantren bukanlah pilihan yang salah, tetapi di pesantren kita akan memperoleh banyak manfaat serta ilmu dunia dan akhirat. Yang tak kalah pentingnya adalah sebuah mantra yang sangat manjur dari seorang ustadz PM bernama Kiai Rais “Man jadda wajada” Siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses. Mantera ini sangat perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apabila kita ingin menggapai cita-cita maka kita harus bersungguh-sungguh dalam menggapainya. Hadiah Allah dari kesungguhan tersebut tak ada yang lain selain kesuksesan.
Pada intinya, novel karya A. Fuadi ini penuh inspiratif dan sangat memotivasi. Melalui tokoh-tokoh yang ada dalam novel ini kita dapat mengambil pelajaran hidup dan semangat juang mereka dalam menggapai cita-cita. Kisah nyata yang dituangkan dalam kata-kata yang sangat menarik dan mengesankan. Buku ini sangat cocok untuk dibaca oleh semua kalangan masyarakat. Terutama bagi generasi muda yang sedang mencetak impian-impian indahnya.